Live Naik 39%, Pesanan Naik 59%. Lantai Penjualan Sekarang Ada di HP

Fitur live TikTok Shop dan Tokopedia naik 39% di Q1-2026, pesanan +59% menurut liputan platform. Lantai penjualan pindah ke HP, bukan stunt merek.

Share
Live Naik 39%, Pesanan Naik 59%. Lantai Penjualan Sekarang Ada di HP

Penggunaan fitur live di TikTok Shop dan Tokopedia naik 39 persen, menurut angka platform yang Fortune Indonesia kutip.

Kenaikan itu dibanding periode yang sama tahun lalu, dan tercatat sepanjang kuartal I-2026. Dalam liputan 27 Juli, Fortune menautkan angka dari program Kumitra Jambore Yogyakarta itu dengan pesanan yang ikut naik 59 persen. Video pendek, di rangkaian klaim yang sama, naik 79 persen.

Catatan: Tiga angka itu datang dari platform yang juga menjual iklan ke penjual. Fortune mengutipnya sebagai liputan, bukan sebagai audit independen yang menghitung ulang gudang toko mana pun.

Tiga angka itu mengubah bacaan kalau live shopping masih terdengar seperti aksi merek: lampu ring, host selebritas, diskon satu jam, lalu selesai. Live di lantai ini bukan kampanye kesadaran merek. Live adalah penjualan. Satu sesi, dalam pembacaan itu, lebih dekat ke shift toko daripada ke unggahan. Barang yang disebut di kamera harus benar-benar bisa dikirim, orang di depan kamera harus bisa menutup transaksi, dan jam siaran harus bertemu jam pembeli membuka HP.

Live yang naik 39 persen itu lantai penjualan di HP, bukan acara branding yang kebetulan punya tombol beli. TikTok Shop adalah lantai discovery yang menutup transaksi di dalam aplikasi. Shopee masih lantai checkout yang lebar. Satu dashboard tidak menceritakan negara.

Yogyakarta, satu sentra

Dashboard itu, dalam liputan Fortune, bersumber dari Yogyakarta, salah satu sentra UMKM terbesar di Indonesia. Kota itu, menurut Fortune dari data yang sama, punya 347.744 UMKM. Sebanyak 329.487 di antaranya usaha mikro.

UMKM di kota itu yang didatangi TikTok Shop dan Tokopedia lewat Kumitra Jambore 2026. Isinya pelatihan konten video, plus pendampingan Nomor Induk Berusaha dan jalur sertifikasi halal. Lebih dari 100 pengusaha mikro dari Yogyakarta dan sekitarnya ikut.

Senior Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Vonny Susamto, dikutip Fortune, merinci isi program: pelatihan pembuatan konten video pemasaran, plus pendampingan legalitas usaha seperti NIB. Liputan program yang sama di Neraca Online, 20 Juli, untuk acara di Teras Malioboro pada 17 Juli, menambahkan bingkainya. Vonny menekankan keterampilan membuat konten, video pendek maupun sesi live, di era discovery commerce, ketika keputusan belanja makin dipengaruhi konten yang terasa autentik.

Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza, dari keterangan resmi yang dikutip Fortune pada Senin 27 Juli, menaruh digital dan kompetensi bisnis di satu kalimat. “Transformasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi bisnis agar makin banyak pengusaha UMKM dapat jualan nyaman, berdaya saing, dan tumbuh berkelanjutan seiring perkembangan zaman,” katanya.

Fortune juga menulis, penjual lain bisa mempelajari tata cara NIB serta sertifikasi halal tanpa biaya lewat Pusat Edukasi Tokopedia dan TikTok Shop. NIB, dalam bingkai itu, mempermudah akses program pembinaan dan pembiayaan. Sertifikat halal menaikkan kepercayaan konsumen. Dua pekerjaan itu di belakang toko, bukan di kamera.

Yogyakarta di liputan itu hanya satu sentra. Yang bergerak lebih besar adalah lantai jualan yang pindah ke layar yang sudah ada di saku pembeli. Live yang naik di kuartal pertama adalah sinyal paling keras dari perpindahan itu.

Dua penggaris

Perpindahan itu, di peta kawasan, sudah tidak kelihatan seperti eksperimen. Digital in Asia, lewat tracker Momentum Works yang diperbarui Juni 2026, menaruh TikTok Shop di posisi yang tidak lagi mudah disebut uji coba.

GMV platform TikTok Shop di Asia Tenggara pada 2025 mencapai 45,6 miliar dolar, kira-kira dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Indonesia menyumbang 13,1 miliar dolar, pasar terbesar TikTok Shop di kawasan, dan kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Asia Tenggara sendiri 71 persen dari GMV global TikTok Shop sebesar 64,3 miliar dolar.

Catatan: Angka GMV di atas adalah hitungan tracker pihak ketiga, bukan rekonsiliasi gudang penjual. Berguna untuk peta. Berbahaya kalau dijadikan skor toko pribadi.

Shopee, di tracker yang sama, masih lantai checkout yang besar. Tracker itu menaruh Shopee di sekitar 53 persen GMV platform Asia Tenggara 2025. Seluruh e-commerce platform di kawasan tercatat 157,6 miliar dolar. Tracker itu juga menulis, TikTok Shop dihitung bersama Tokopedia, pasar yang TikTok kuasai kendalinya sejak Desember 2023, mencapai sekitar 65,7 persen dari GMV regional Shopee pada 2025.

Dua angka terakhir itu dua ukuran yang berbeda. Keduanya tidak untuk dirata-rata, dan tidak untuk dijadikan satu pie chart di grup WhatsApp penjual. Yang pertama adalah pangsa Shopee terhadap pasar kawasan. Yang kedua adalah GMV gabungan TikTok Shop plus Tokopedia dibanding GMV regional Shopee. Ketika keduanya duduk dalam satu grup, GMV gabungan mudah kelihatan hampir menyusul Shopee. Itu perbandingan dua penggaris, bukan bukti bahwa satu layar Seller Center adalah seluruh negeri.

Indonesia, di tracker yang sama, masih pusat gravitasi, sekitar 37 persen GMV kawasan. Pertumbuhan 2025-nya sekitar 2,2 persen, pasar besar yang melambat, bukan pasar kecil yang meledak. Momentum Works, menurut Digital in Asia, juga merevisi pangsa Indonesia turun dari 44 persen di laporan 2024. Revisi itu mencerminkan rasionalisasi Tokopedia dan keluarnya Bukalapak dari marketplace.

Pangsa Indonesia di tracker itu belum angka Shopee di laporan Sea Limited. Dalam laporan kuartal I-2026 yang masuk ke SEC sebagai Exhibit 99.1 pada 12 Mei 2026, Sea Limited menulis GMV Shopee 37,3 miliar dolar, naik 30,2 persen dibanding kuartal I-2025. Itu angka global, termasuk Taiwan dan Brasil, bukan GMV Indonesia saja. Dashboard toko yang hanya menghitung penjualan di sini tidak bisa memakai 30,2 persen itu sebagai skor toko.

Peta ini perlu dibaca sebelum kamera dinyalakan. Live yang naik 39 persen itu terjadi di lantai TikTok Shop dan Tokopedia, lantai discovery yang menutup transaksi di dalam aplikasi. Shopee tetap lantai checkout yang lebar. Memilih satu platform seolah-olah itu seluruh Indonesia adalah kesalahan penggaris. Yang dipilih, pada praktiknya, adalah shift.

Shift, bukan unggahan

Shift di HP kelihatan ringan: kamera depan, satu barang di meja. Kerjanya tidak.

Membuka live berarti membuka etalase dan menjanjikan bahwa barang ada, bisa dikembalikan, dan ada orang yang menjawab. Kalau salah satu janji itu bolong, siaran tetap jalan. Kas tidak.

Menyalakan live, dalam kerangka itu, adalah membuka toko, bukan mengunggah, dan bukan menaikkan merek. Host yang hanya ramah di kamera tetapi tidak bisa menjawab ukuran, warna, ongkir, atau kapan kirim menghasilkan acara, bukan lantai. Pembeli live tidak menunggu besok. Mereka klik sekarang, atau mereka scroll. Barang yang habis di menit ke-20 tidak tersisa sebagai engagement. Ia tersisa sebagai komplain. Jalur pengembalian yang berantakan menghasilkan view, lalu rating yang turun. Itu pekerjaan operator, bukan pekerjaan awareness.

Banyak toko masih merekam live seperti iklan televisi mini: bagus untuk arsip, lemah untuk closing. Orang di komentar bukan penonton. Mereka pembeli yang sedang berdiri di etalase. Bedanya, etalase ini bisa ditutup dengan satu geser jempol.

TikTok Shop, di peta tracker, adalah tempat orang menemukan barang lalu membeli di aplikasi yang sama. Video pendek naik 79 persen di angka platform yang sama: discovery lebih dulu, transaksi ditutup di dalam. Shopee, di peta yang sama, masih lantai besar tempat orang sudah datang untuk checkout. Dua lantai, dua kebiasaan.

Tidak semua dashboard wajib dipercaya. Yang perlu diketahui adalah penggaris mana yang sedang dipakai, dan apakah yang diukur adalah shift penjualan atau kesan merek.

Live yang naik itu undangan membuka shift di HP, bukan undangan membuat konten kesan merek lalu pulang. Kalau masuk, masuk sebagai penjualan: barang yang siap, host yang menutup transaksi, pengembalian yang jelas, dan jam yang bertemu pembeli. Kalau shift itu belum siap, live hanya lampu yang menyala di toko kosong.

Shopee tidak pergi. Lantai besar itu tetap di tempatnya. TikTok Shop tidak mengganti negara. Platform itu menggeser tempat orang menemukan barang, lalu menutup transaksi tanpa pindah aplikasi. Kamera hanya pintu. Yang menentukan apakah pintu itu toko, atau cuma siaran, tetap pekerjaan yang dikerjakan sebelum tombol live hijau.

Catatan

  • Fortune Indonesia, 27 Juli 2026, mengutip angka live Q1-2026 dari TikTok Shop/Tokopedia lewat program Kumitra Jambore Yogyakarta: live +39% YoY, pesanan +59%, video pendek +79%; UMKM Yogyakarta 347.744 (329.487 mikro); Vonny Susamto; Helvi Yuni Moraza Senin 27 Juli; NIB/halal Pusat Edukasi. Angka platform, bukan audit independen.

https://www.fortuneidn.com/business/penggunaan-fitur-live-tiktok-shop-pada-q1-2026-naik-39-persen-00-ccw2k-8dw7gq

  • Neraca Online, 20 Juli 2026, Kumitra Jambore Teras Malioboro 17 Juli: Vonny discovery commerce; 100+ pengusaha mikro; NIB/halal Pusat Edukasi.

https://neracaonline.com/2026/07/20/tokopedia-dan-tiktok-shop-bersama-kementerian-umkm-bantu-pengusaha-mikro-yogyakarta-jualannyaman/

  • Digital in Asia / Momentum Works, Juni 2026: TTS SEA $45,6B; Indonesia $13,1B; SEA 71% of TTS global $64,3B; Shopee ~53%; kawasan $157,6B; TTS+Tokopedia ~65,7% of Shopee regional (dua ukuran); Indonesia ~37% GMV, growth ~2,2%; revisi dari 44% (2024) terkait Tokopedia/Bukalapak. TikTok kendali Tokopedia sejak Des 2023.

https://digitalinasia.com/tiktok-shop-shopee-gmv-tracker/

  • Sea Limited, Exhibit 99.1 SEC, 12 Mei 2026: Shopee GMV Q1-2026 US$37,3B +30,2% YoY (global, termasuk TW+BR).

https://www.sec.gov/Archives/edgar/data/1703399/000119312526219378/d78490dex991.htm

Read more